Haiii….
Saya ingin share tentang rumah
sejarah Rengasdengklok, dimana Soekarno-Hatta pernah diasingkan disini,
yang kebetulan sangat dekat dengan rumah dimana saya tinggal saat ini
Entah ini kunjungan ke berapa kali saya
datang ke rumah singgah ini, lupa. Karena jarak yang sangat dekat, tak
terhitung berapa kali saya berkunjung. Dulu pas SD pernah kunjungan
kesini bersama teman kelas dan guru, bawa bekal nasi dan ayam goreng,
yang kemudian dilanjutkan pembagian raport kelas, berkesan sampai saat
ini !! Yang lebih berkesan saat HUT RI-71, Agustus 2016 lalu, karena
kunjungan ini sekaligus upacara bendera di halaman rumah bersejarah ini
Kunjunga-kunjungan berikutnya ialah ketika ada teman yang minta diantar
ke rumah ini sekedar untuk melihat, atau mengambil barokah dari napak
tilas Sang Proklamator RI. Saya tak pernah bosan untuk berkunjung kesini
:))
Kunjungan terakhir saya kesini yaitu di
tanggal 25 Desember 2016. Bersama enam teman dari Jogja, kami kembali
kesini. Dari keenam saya ini, ada yang kedua kalinya ke tempay ini.
Lagi-lagi niat kami bilbarokah.….
Nampak perbedaan ketika saya menapaki
kembali, dimana tatanan rumah dan halamannya lebih asri, lebih rapi dan
tertata. Sudah ada pagar tembok yang masih terlihat baru, kursi di teras
rumah, juga ubin tanah yang lebih rapi dari sebelumnya. Sangat nampak
kalau rumah bersejarah ini baru selesai di tata, tapi tidak
menghilangkan keaslian replika rumah singgah ini.
Kedatangan kami di sambut oleh cucu pemilik
rumah ini, Djiauw Kwin Moy. Ci Moy, biasa kami memanggilnya. Ci Moy
adalah cucu dari Djiauw Kie Siong atau Bah Ki Song biasa orang sunda
memanggilnya (Bah itu ‘Abah’, panggilan kakek untuk orang sunda). Ci Moy
bercerita, bahwa rumah ini awalnya berada di pinggiran sungai citarum,
tetapi khawatir terjadi erosi akhirnya dipindahkan tak jauh dari sungai,
lebih asri, dan banyak pepohonan rindang, sekitar 160 meter.
| Bagian depan rumah Soekarno, bersama teman saya @dullmuiz |
Setiap saya berkunjung kesini yang ada di
pikiran saya adalah buku LKS (Lembar Kerja Siswa) SD dimana disitu
dijelaskan tentang rumah ini hhehe…Kalau tidak salah ingatan hheuheuyy,
rumah ini adalah rumah singgah dimana Soekarno-Hatta di desak untuk
segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Soekarni, Aidit, Wikana,
dan Aidit merupakan orang-orang yang mengasingkan Soekarno-Hatta ke
Rengasdengklok, dari perkumpulan Menteng. Penculikan ini terjadi pada
tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum kemerdekaan. Rencananya
pembacaan teks proklamasi akan dibacakan keesokan harinya di IKADA (yang
saat ini dikenal dengan lapangan Monas). Tetapi suasana yang ricuh di
lokasi tersebut, maka pembacaan teks proklamasi dilaksanakan di rumah
Soekarno, jalan pegangsaan timur No. 56. Maka disusunlah teks proklamasi
dirumah singgah ini, di Rengasdengklok.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benak
saya adalah kenapa harus diasingkan di Rengasdengklok? Karena
Rengasdengklok terletak tak jauh dari Jakarta, dimana teks proklamasi
akan dibacakan. Kota ini strategis, asri, dan mayoritas sawah , tak
heran disebut kota lumbung padi (eh kok mulai gak nyambung wkwkkw)
Intinya, saya bangga jadi warga
Rengasdengklok-Karawang. Walaupun hanya perantau tetapi setidaknya saya
bisa kapan saja berkunjung ke rumah sejarah ini. Yuuukk kita berkunjung
langsung ke rumah ini. Menengok, belajar, merefleksikan diri, mengirim
doa untuk para pejuang, lalu singgah kembali di lain waktu.
Ingat, hanya singgah di rumah ini saja ya,
jangan singgahi mojang Karawangnya. Karena mojang Karawang tak suka
disinggahi, sukanya dinikahi wkwkwkwkkk