Kamis, 12 Januari 2017

Sejenak Menengok Rengasdengklok

Haiii….
Saya ingin share tentang rumah sejarah Rengasdengklok, dimana Soekarno-Hatta pernah diasingkan disini, yang kebetulan sangat dekat dengan rumah dimana saya tinggal saat ini
Entah ini kunjungan ke berapa kali saya datang ke rumah singgah ini, lupa. Karena jarak yang sangat dekat, tak terhitung berapa kali saya berkunjung. Dulu pas SD pernah kunjungan kesini bersama teman kelas dan guru, bawa bekal nasi dan ayam goreng, yang kemudian dilanjutkan pembagian raport kelas, berkesan sampai saat ini !! Yang lebih berkesan saat HUT RI-71, Agustus 2016 lalu, karena kunjungan ini sekaligus upacara bendera di halaman rumah bersejarah ini  Kunjunga-kunjungan berikutnya ialah ketika ada teman yang minta diantar ke rumah ini sekedar untuk melihat, atau mengambil barokah dari napak tilas Sang Proklamator RI. Saya tak pernah bosan untuk berkunjung kesini :))
Kunjungan terakhir saya kesini yaitu di tanggal 25 Desember 2016. Bersama enam teman dari Jogja, kami kembali kesini. Dari keenam saya ini, ada yang kedua kalinya ke tempay ini. Lagi-lagi niat kami bilbarokah.….
Nampak perbedaan ketika saya menapaki kembali, dimana tatanan rumah dan halamannya lebih asri, lebih rapi dan tertata. Sudah ada pagar tembok yang masih terlihat baru, kursi di teras rumah, juga ubin tanah yang lebih rapi dari sebelumnya. Sangat nampak kalau rumah bersejarah ini baru selesai di tata, tapi tidak menghilangkan keaslian replika rumah singgah ini.
Kedatangan kami di sambut oleh cucu pemilik rumah ini, Djiauw Kwin Moy. Ci Moy, biasa kami memanggilnya. Ci Moy adalah cucu dari Djiauw Kie Siong atau Bah Ki Song biasa orang sunda memanggilnya (Bah itu ‘Abah’, panggilan kakek untuk orang sunda). Ci Moy bercerita, bahwa rumah ini awalnya berada di pinggiran sungai citarum, tetapi khawatir terjadi erosi akhirnya dipindahkan tak jauh dari sungai, lebih asri, dan banyak pepohonan rindang, sekitar 160 meter.

Foto-foto di rumah singgah Soekarno-Hatta, dan Djiauw Kie Siong (Model: @naufilist dan @dullmuiz)

                     
Menurut Ci Moy, susunan rumah ini masih asli walaupun pernah berpindah lokasi. Nampak foto-foto Soekarno-Hatta, juga Djiauw Kie Siong pada saat masuk rumah. Selain itu ada juga peralatan ibadah warga keturunan tionghoa. Sebelah kanan merupakan kamar yang pernah ditempati Soekarno, dan sebelah kiri kamar yang pernah ditempati Bung Hatta. Dua ranjang dikamar ini pun asli, hanya saja ditambahi kelambu dan seprei baru agar terlihat. rapi  Tak ada peralatan aneh di dua kamar ini, hanya ada lemari, kursi dan bangku tua, serta jendela kecil sehingga nampak udara segar masuk dari sini.
Bagian depan rumah Soekarno, bersama teman saya @dullmuiz


Setiap saya berkunjung kesini yang ada di pikiran saya adalah buku LKS (Lembar Kerja Siswa) SD dimana disitu dijelaskan tentang rumah ini hhehe…Kalau tidak salah ingatan hheuheuyy, rumah ini adalah rumah singgah dimana Soekarno-Hatta di desak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Soekarni, Aidit, Wikana, dan Aidit merupakan orang-orang yang mengasingkan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, dari perkumpulan Menteng. Penculikan ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum kemerdekaan. Rencananya pembacaan teks proklamasi akan dibacakan keesokan harinya di IKADA (yang saat ini dikenal dengan lapangan Monas). Tetapi suasana yang ricuh di lokasi tersebut, maka pembacaan teks proklamasi dilaksanakan di rumah Soekarno, jalan pegangsaan timur No. 56. Maka disusunlah teks proklamasi dirumah singgah ini, di Rengasdengklok.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya adalah kenapa harus diasingkan di Rengasdengklok? Karena Rengasdengklok terletak tak jauh dari Jakarta, dimana teks proklamasi akan dibacakan. Kota ini strategis, asri, dan mayoritas sawah , tak heran disebut kota lumbung padi (eh kok mulai gak nyambung wkwkkw)
Intinya, saya bangga jadi warga Rengasdengklok-Karawang. Walaupun hanya perantau tetapi setidaknya saya bisa kapan saja berkunjung ke rumah sejarah ini. Yuuukk kita berkunjung langsung ke rumah ini. Menengok, belajar, merefleksikan diri, mengirim doa untuk para pejuang, lalu singgah kembali di lain waktu.
Ingat, hanya singgah di rumah ini saja ya, jangan singgahi mojang Karawangnya. Karena mojang Karawang tak suka disinggahi, sukanya dinikahi wkwkwkwkkk